Saturday, 27 March 2010

Bukan Teror Sarung dan Peci

 

clip_image001

VIDEO amatir itu berdurasi 75 menit 34 detik. Dibuka dengan kaligrafi arab mengutip ayatayat suci al-Quran, disusul satu demi satu cuplikan gambar kekerasan yang melibatkan umat Islam di Indonesia. Lagu nasyid berirama cepat berkumandang jadi latar belakang. Liriknya berulang-ulang mengajak muslim berjihad.

Lima belas menit pertama video itu penuh berisi sejarah bentrok antara kelompok Islam garis keras dan aparat keamanan di Tanah air. Dimulai dari penyerbuan tentara ke kelompok pengajian garis keras pimpinan Warsidi di Talangsari, Lampung, 1989, kasus Tanjung Priok, konflik di ambon, sampai aksi polisi memberangus kelompok militan yang berbasis di Pesantren Tanah runtuh di Poso, Sulawesi Tengah, tiga tahun lalu.

Tubuh-tubuh yang terkoyak senjata, wajah-wajah babak-belur, dan isak tangis sengaja diberi fokus dan diulangulang. Dalam video itu, Indonesia tampak mirip afganistan. Pada menit ke-20, muncul inset gambar dari khotbah abdullah Yusuf azzam, teolog Palestina yang pertama kali mengobarkan jihad di afganistan. azzam disebut-sebut sebagai mentor Usamah bin Ladin, pemimpin al-Qaidah asal arab Saudi. Teks terjemahan Indonesia dari khotbah azzam muncul di bagian bawah gambar. ”Tak ada alasan untuk tidak berjihad,” kata azzam dalam video itu.

Setelah azzam, gambar lalu pindah ke suasana kamp latihan militer—biasa disebut tadrib dalam konsep Jamaah Islamiyah—di sebuah perbukitan. Petunjuk peta di awal adegan ini memastikan lokasi kamp ada di Nanggroe aceh Darussalam. Sekitar 30 pemuda tampak berlatih baris-berbaris, lompat halang rintang, sampai menembak. ratarata berpakaian hitam-hitam, dengan perlengkapan seadanya. Badannya kurus dan kecil-kecil, tak tampak seperti tentara.

Setelah latihan, mereka bergerombol makan bersama: dua sampai tiga orang berbagi nasi dari satu piring plastik. Beberapa makan langsung dari wajan. Lauknya satu-dua potong ikan asin sebesar ujung jempol. Sesekali terdengar teriakan nyaring, ”Masya allah, enak sekali makanan ini.” adegan berikutnya adalah khotbah pentolan kamp pelatihan. Duduk bersila di bawah tenda terpal hijau, tangan kiri si pengkhotbah memegang erat sepucuk senapan aK-47.

Di belakang, satu pengikut membentangkan bendera hitam bertulisan kalimat syahadat dalam aksara arab. Sang tokoh dengan berapi-api bercerita nikmatnya menjadi mujahidin. ”Di sini tak ada televisi yang merusak akhlak, tidak ada musik, tidak ada aurat untuk dipandangi,” katanya. Sesekali nada suara meninggi, seperti menjerit. ”ayo ikhwan, tunggu apa lagi? ayo bergabung, jangan berjihad dengan sarung dan peci.”

Memasuki dua menit terakhir, barulah suara si orator merendah. ”Di sini kami makan kepala ikan asin, yang biasa kalian berikan kepada kucing dan ayam. Di sini kecap sangat berharga. agar tak berat kami makan nasi yang keras...,” katanya mengiba. Video itu lalu ditutup dengan tulisan besar: ”Mendukung, membantu, mendoakan, infaq fi sabillilah… adalah keharusan yang tidak ada udzur ketika jihad hukumnya fardhu'ain.” akhir Februari lalu, Detasemen Khusus 88 Mabes Polri menggerebek kamp pelatihan di Bukit Jalin, Kecamatan Jantho, aceh Besar, itu. Lebih dari 30 peserta pelatihan ditangkap, dan empat pelatihnya ditembak mati. Dari penyerbuan itu, polisi menyita sejumlah dokumen, kamera, laptop, dan belasan pucuk senjata api.

Sepekan setelah itu, sebuah pesan muncul di satu situs Internet milik kelompok militan. Isinya singkat, cuma dua paragraf. Siaran pers itu diawali penjelasan: ”Kami, Tanzim al-Qaidah Indonesia Wilayah Serambi Mekah ... sampai hari ke-10 pengejaran thagut, kami dapat bertahan melanjutkan jihad meskipun sebagian saudara kami ada yang tertawan dan syahid.”

Nama kelompok ini belum pernah terdengar. Dari sejumlah peserta tadrib yang buka mulut, jejak jejaring kelompok ini diendus sampai Jakarta. awal Maret lalu, polisi menyerbu dan menembak mati seorang pria berjenggot di warung Internet Multiplus di Pamulang, Banten. Belakangan ketahuan pria itu adalah Dulmatin, buron polisi nomor wahid setelah bom Bali pertama 2002. Yang belum jelas betul adalah bagaimana kelompok baru ini terbentuk.

Pasted from <http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/teroris/>

Bukan Teror Sarung dan Peci (2)

clip_image002

Akhir Januari 2009, perbukitan Cot Kareung, hanya 6 kilometer di luar kota Lhokseumawe. Seratusan pemuda tanggung—ada yang bercelana loreng, berbaju kaus, dengan aneka jenis sepatu— melompat dan merunduk di bawah arahan seorang pria setengah baya. Si instruktur menutup seluruh wajahnya dengan kain bermotif kotak hitamputih, menyisakan sepasang matanya yang melotot, awas mengawasi muridmuridnya berlatih bela diri. Bercelana loreng, si pelatih mengenakan rompi bertulisan ”polisi” di punggungnya.

”Ini pelatihan laskar Front Pembela Islam yang akan kami kirim ke Jalur Gaza,” kata Tengku Muslim atthahiri, ulama muda pemimpin Dayah Darul Mujahiddin, yang mengorganisasi latihan itu. Koresponden Tempo, Imran M.a., menemuinya seusai latihan, setahun lalu. Ketika itu, Israel memang tengah habis-habisan membombardir wilayah Palestina yang dikuasai Hamas itu. ”Kami merasa terpanggil berjihad di sana,” katanya. atthahiri adalah Sekretaris FPI aceh.

Total ada 125 pemuda yang dilatih. Mereka berasal dari seluruh aceh dan mendaftar setelah membaca pengumuman Front Pembela Islam di surat kabar. ”Sebenarnya ada 500 lebih yang mendaftar,” kata atthahiri. Latihan dilakukan empat hari empat malam, di Bukit Cot Kareung, persis di belakang kompleks Pesantren Darul Mujahiddin. Ketika diwawancarai pada 2009, atthahiri mengaku mendatangkan dua instruktur bela diri dan satu pelatih militer dari Jakarta. Salah satu pelatih saat itu adalah Sofyan Tsauri—pentolan al-Qaidah aceh yang kini tertangkap.

Sofyanlah yang mengenakan rompi ”polisi” dan menutup mukanya ketika memimpin latihan setahun lalu. Belakangan terungkap, dia memang brigadir polisi yang desersi dari Polres Depok pada 2008. Beberapa peserta pelatihan ingat saat itu Sofyan sangat tertutup. ”Selesai latihan, tidak pernah bicara lagi, langsung pulang,” kata satu sumber Tempo.

Ketika dimintai konfirmasi pekan lalu, Tengku Yusuf al-Qardhawi, Ketua FPI aceh, membantah Sofyan adalah instruktur kiriman FPI Pusat di Jakarta. ”Dia sendiri yang datang kepada kami, mengaku bekas mujahidin di afganistan dan Mindanao,” kata Yusuf. Karena memang membutuhkan pelatih militer, tawaran bantuan dari Sofyan diterima begitu saja.

Awal Februari 2009, Yusuf dan 15 lulusan terbaik pelatihan militer di Cot Kareung datang ke Petamburan, markas FPI Pusat di Jakarta. Sofyan ikut bersama mereka. ”rencananya, 15 orang ini ikut pendidikan pemantapan dua pekan di Jakarta,” kata Yusuf. Tapi, Maret 2009, rencana ke Palestina akhirnya batal. Bukannya pulang kampung kembali ke aceh, sebagian relawan jihad ini malah memilih tinggal di Ibu Kota. ”Tujuh orang tidak mau pulang,” kata Yusuf. Mereka yang tinggal inilah yang belakangan bergabung dengan Sofyan di kamp pelatihan Tanzim al-Qaidah aceh.

Simpul Sofyan dan anak-anak didikannya di kamp pelatihan militer FPI bersentuhan dengan Tanzim al-Qaidah aceh lewat pengajian garis keras aman abdurrahman. Dia adalah ustad yang pernah ditahan di LP Sukamiskin, Bandung, karena terlibat kursus pembuatan bahan peledak di Cimanggis, Depok, awal 2004.

Selain Sofyan, Yudi Zulfahri— juga bagian dari kelompok al-Qaidah aceh—adalah pengikut pengajian abdurrahman. Sumber Tempo menuturkan, sejak ditahan di LP Sukamiskin, abdurrahman amat dekat dengan selsel kelompok militan teror. Salah satu jejaringnya adalah abdullah Sunata. Sunata adalah mantan pemimpin Komite Penanggulangan Dampak Krisis (Kompak) yang aktif menggalang konflik di ambon dan Poso. Sunata ditangkap polisi pada Juli 2005 karena memiliki senjata tanpa izin. Dia divonis tujuh tahun penjara dan dibui di LP Cipinang.

”Saya kaget Sunata aktif lagi, karena dia baru saja bebas,” kata asep Jaja, kawan seangkatan Sunata saat berperang di ambon. asep sekarang dihukum penjara seumur hidup di LP Porong, Jawa Timur.

Pasted from <http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/teroris/page02.php>

Bukan Teror Sarung dan Peci (3)

clip_image003

Masuknya Sunata dalam jaringan al- Qaidah aceh membawa banyak manfaat. Dia menguasai simpul-simpul mujahidin yang pernah aktif di Kompak, baik ketika mereka beraksi di Poso, ambon, maupun Mindanao, Filipina. Kuat diduga, Sunatalah yang membawa Dulmatin pulang. ”Mereka memang dekat sejak sama-sama di ambon,” kata asep Jaja.

Selain membawa Dulmatin, Sunata mengajak arham dan Jaja—dua pentolan al-Qaidah aceh yang tewas tertembak di Leupueng, aceh Besar, dua pekan lalu. Dua orang ini adalah bagian dari lingkaran dalam rois alias Iwan Darmawan, pelaku utama bom di Kedutaan australia. ”Mereka dari kelompok Darul Islam di Banten,” kata Noor Huda Ismail, Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian, lembaga yang mengamati gerakan teror di Indonesia.

Terbukti, meski saat ini tengah menanti hukuman mati di LP Cipinang, rois aktif berkomunikasi dengan jejaring aceh. Delapan telepon selulernya baru disita polisi bulan lalu. ”Dia berhubungan dengan Sapta alias Syailendra,” kata sumber Tempo, seorang perwira di Mabes Polri (lihat ”Sapta dari Gang Buana”).

Tak hanya itu, sel-sel Jamaah anshari Tauhid (JaT)—kelompok baru yang didirikan abu Bakar Ba’asyir selepas pengunduran dirinya dari Majelis Mujahiddin Indonesia—juga ikut ”bermain” di aceh. Nama Ubaid alias Luthfi Hudaeroh dan Deni alias Faiz, misalnya, sudah dirilis polisi sebagai buron al-Qaidah aceh. ”Suara khotbah di video al-Qaidah aceh adalah suara Ubaid,” kata sumber Tempo.

Ubaid dan Deni bukan orang sembarangan. Mereka seangkatan dengan Urwah dan Jabir, yang sudah tertembak mati dalam pengejaran polisi. Keempatnya adalah alumni Universitas an-Nur atau Mahad aly di Solo, Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai pengawal setia Noor Din M. Top.

al-Qaidah aceh ini tampaknya berhasil menggabungkan sel dari Kompak, Darul Islam, dan JaT dalam satu wadah gerakan. ”Jejaring baru di aceh ini benarbenar membingungkan, semua kelompok lebur jadi satu,” kata Huda Ismail.

Meski petanya melebur, polisi yakin pola rekrutmen terorisme setelah kematian Noor Din pada September 2009 tidak berubah. ”Jalurnya tetap tiga: persahabatan, garis keluarga, dan hubungan guru-murid,” kata satu perwira yang menolak disebut namanya. Pola rekrutmen dengan pertalian keluarga sudah dilakukan sejak dulu: hubungan kawin-mawin dan persaudaraan di antara sesama penganut ajaran garis keras. Dua paman Iwan Dharmawan alias rois, yakni Kang Jaja dan Saptono, misalnya, aktif di al-Qaidah aceh. Jaja sendiri belakangan merekrut keponakannya yang lain, Ibnu Sina.

Ibnu, 17 tahun, pemuda dari Pandeglang, Banten, kabarnya disiapkan sebagai pelaku peledakan bom bunuh diri (lihat ”Eksekusi!”). Pola rekrutmen lewat hubungan persahabatan tampak dari masuknya Yudi Zulfahri—orang aceh yang melakukan survei awal untuk lokasi kamp militer di Jantho. Dia diajak oleh Gema awal ramadhan. Keduanya sama-sama alumni Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) di Jatinangor, Bandung. Yudi dan Gema saat ini sudah ditahan polisi. Yudi belakangan mengajak Sofyan Tsauri.

Gema mulai dekat dengan kelompok Islam garis keras lewat pengajian aman abdurrahman. Saat abdurrahman dibui di LP Sukamiskin, kebetulan Gema juga ditahan di sana setelah terlibat penganiayaan siswa STPDN, Wahyudi, pada 2007.

Laporan International Crisis Group pada November 2007 menyebutkan, ”Gema dan sejumlah siswa STPDN yang ditahan di penjara itu langsung tertarik pada ajaran garis keras abdurrahman.” Masuknya Gema mewakili pola rekrutmen melalui hubungan guru-murid. Keterlibatan banyak eks narapidana terorisme dan penggunaan penjara sebagai tempat penyebaran ideologi garis keras ini membuat khawatir banyak pihak.

”Kasus terakhir di aceh ini memang menandakan ada kelemahan dalam proses penanganan narapidana terorisme di Indonesia,” kata Huda Ismail. Menurut dia, saat ini ada sekitar 350 mujahidin eks afganistan di seluruh Indonesia. ”Tanpa penanganan yang benar, jejaring baru akan terus berkembang,” katanya.

Wahyu Dhyatmika, Budi Setyarso (Jakarta), Kukuh S. Wibowo (Surabaya), Imran (Lhokseumawe), adi Warsidi (Banda aceh)

Pasted from <http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/teroris/page03.php>

Sapta dari Gang Buana

clip_image004

Gang sempit di belakang Kanal Banjir Barat itu langsung ramai begitu Markas Besar Kepolisian republik Indonesia mengumumkan selikur nama yang terlibat baku tembak di Desa Bayu, aceh Besar, pada 10 Maret lalu. Nama di baris pertama adalah Syailendra ady Sapta bin robert Bakri alias Ismet alias abu Mujahid, 40 tahun.

Syailendra adalah bekas tetangga mereka di Gang Buana Nomor 11 rT 12 rW 4, Petamburan, Jakarta Pusat. Mantan preman ini tinggal di daerah itu sejak 1986. ”Sejak masih SMP,” kata Yadi, Ketua rT 12, rabu pekan lalu. Tetangga dekat rumah Syailendra, Malik, juga terkesiap begitu melihat foto Syailendra terpajang. ”Saya yakin itu Sapta,” kata Malik, 40 tahun, rabu pekan lalu. ”Dia sering berbicara dengan saya.” rumah Malik hanya berselang dua rumah dari rumah Syailendra.

Pada 1998, Syailendra pernah bekerja sebagai anggota satuan pengaman di Metro Plaza Senayan. Ketika melamar pekerjaan itu, ia meminjam ijazah sekolah menengah atas milik Oji, teman masa remajanya. ”Karena saya pikir buat bantuin temen, ya saya pinjemin,” ujar Oji. Sudah lima belas tahun Oji tidak pernah berkomunikasi dengan Syailendra.

Baru bekerja enam bulan, Syailendra diberhentikan. ”Dia membawa motor komandannya, tapi tidak dikembalikan,” Yadi bercerita. Sejak itu kegiatan Syailendra tak jelas. ”Dia hanya mondar-mandir Jakarta Pandeglang,” Yadi menambahkan.

Setelah rumah di Gang Buana itu dijual, pada 2007, Syailendra dan keluarganya pindah ke Pandeglang, Banten. Kebetulan istri Syailendra, audiah, berasal dari daerah Cikedal, Pandeglang. Sekarang, oleh pemilik baru, rumah itu dijadikan kontrakan dengan sepuluh kamar. Menurut warga lain, Yati, audiah hanyalah perempuan biasa. ”Bukan aktivis atau orang yang suka organisasi,” kata Yati, 41 tahun, pedagang bedak yang dagangannya pernah dibeli Syailendra. audiah jarang bergaul dengan tetangga. ”Juga jarang keluar,” Yati menambahkan. Meski sudah dua tahun pindah ke Pandeglang, Syailendra masih sering mengunjungi Gang Buana. ”Puasa tahun kemarin dia masih ke sini, dan ceramah di Musala al-Hidayah,” ujar Yadi. Syailendra juga sering terlihat tidur di Musala ar-rahmah.

Tak jelas kapan Syailendra mulai berubah. Menurut Yadi, mungkin sejak 2000. ”Kalau tak salah, waktu itu abis mabok di Karet Tengsin,” katanya. Menurut Malik, perubahan total terjadi ketika Syailendra baru pulang dari Poso dan ambon. ”Waktu itu, selain sudah pakai baju gamis dan celana bahan, dia bawa handphone banyak,” kata Malik. Mantan preman ini juga sempat membuat kelompok pengajian.

Sebelum pindah ke Pandeglang, Syailendra bercerita kepada kakak perempuannya, ia ikut pengajian bersama Imam Samudra. Kakak perempuan ini bercerita kepada istri Malik, yang bercerita lagi kepada suaminya. Pengajian itu dilakukan pada sekitar 2000. ”Waktu itu kami belum tahu siapa itu Imam Samudra, dan keluarga Sapta sepertinya juga enggak tahu,” ujar Malik.

Paman Syailendra, yang enggan disebut namanya, menyatakan keluarga belum mengambil sikap apa pun setelah penangkapan Syailendra. ”Biar nanti anggota keluarga lain yang merasa berwenang yang bicara,” ujar warga Petamburan itu. Bahkan ia mengaku jarang bertemu dengan Syailendra. ”Saya juga jarang ngobrol sama dia.”

Cheta Nilawaty, Nur resti agtadwimawanti

Pasted from <http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/teroris/page04.php>

Eksekusi!

clip_image005

Ingin membebaskan teroris yang ditahan, Dulmatin berencana mengebom Penjara Cipinang. Menjalankan wasiat amrozi dkk.

Surat elektronik itu ditujukan kepada anggota kelompok abu Sayyaf Filipina. Dulmatin alias Joko Pitono menulis pesan di warung Internet Multiplus Pamulang, Banten, beberapa menit sebelum ditembak polisi, 9 Maret lalu. Cuma ada satu kata dalam surat itu: eksekusi.

Dulmatin, menurut sumber di Detasemen 88 antiteror, mengirim pesan kepada anggota kelompok abu Sayyaf sebagai perintah penyerangan. Beberapa anggota kelompok Islam radikal yang beroperasi di Filipina Selatan ini disebut-sebut telah berada di Indonesia dan siap bergerak. Pesan eksekusi dikirim sebagai balasan terhadap polisi yang menembak mati rekan Dulmatin dalam penggerebekan di aceh beberapa hari sebelumnya. ”Dia memberikan perintah serangan pembalasan,” ujar sumber Tempo.

Polisi menggerebek lokasi latihan militer pada 22 Februari di Bukit Jalin, aceh Besar. Dalam dua pekan operasi, polisi menangkap dan menembak mati sejumlah tersangka. Kepala Badan reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Polisi Ito Sumardi mengatakan bahwa polisi masih memeriksa surat elektronik Dulmatin itu. Polisi telah mengangkut komputer yang dipakai Dulmatin di warung Internet.

Sasaran Dulmatin dkk juga masih diselidiki. ”Belum kami ketahui karena Dulmatin keburu tewas,” ujar Ito. Dari Pamulang, Dulmatin mengendalikan pelatihan militer di aceh serta perlawanan terhadap polisi. Sumber Tempo di kepolisian mengatakan Dulmatin menggunakan Internet sebagai alat komunikasi dengan jaringannya di aceh dan Filipina.

Pria kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, ini berkomunikasi dengan fasilitas chatting di sebuah situs. Dari pengakuan sejumlah tersangka diperoleh informasi bahwa target Dulmatin adalah membebaskan koleganya yang berada di Penjara Cipinang. Dulmatin juga berencana mengebom sejumlah tempat lain—belum diketahui di mana. rencana detail aksi itu belum sempat dibuat karena Dulmatin keburu didor.

Diduga Dulmatin melanjutkan wasiat amrozi, ali Ghufron, dan Imam Samudra. Trio bomber yang dieksekusi pada November 2008 itu menyebutkan sejumlah nama pejabat, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sebagai sasaran aksi. ”Wajib bagi kalian membunuh individu yang terlibat eksekusi,” demikian bunyi wasiat itu.

Pesan amrozi, ali Ghufron, dan Imam Samudra itu juga menjadi pegangan Noor Din Top. rencana aksi Noor Din tersimpan dalam laptop yang ditemukan polisi setelah warga Malaysia itu ditembak mati. Noor Din memang mengincar Presiden dengan memilih rumah di Jatibening, Bekasi, dekat kediaman Presiden di Cikeas, sebagai tempat penyimpanan bahan peledak dan senjata.

Berbeda dengan Noor Din, Dulmatin menggunakan pola baru dalam mencapai sasarannya. Ia mendidik anggotanya latihan militer. Sumber polisi mengatakan Dulmatin dkk sudah merekrut pasukan berani mati atau istimata. anggota laskar ini nantinya bisa disiapkan sebagai pembawa bom bunuh diri. Laskar ini lain dengan ”pengantin” Noor Din M. Top yang lebih hanya diberi motivasi mental sebelum menjalankan aksinya.

Pasukan berani mati yang disebutsebut sudah disiapkan Dulmatin adalah Ibu Sina, 17 tahun. Pemuda asal Pandeglang, Banten, itu masuk karena ajakan Jaja, pamannya. ”Ia tak memiliki track record masuk kelompok radikal,” ujar sumber Tempo. ”Sengaja dipilih supaya nanti sulit dilacak.” Menurut sumber itu, Dulmatin juga telah memerintahkan anggotanya menggalang dana dengan menggunakan kekerasan atau fa'i. Kelompok ini diduga telah melakukan perampokan di Padang.

Yandi M.r., Budi Setyarso, Cornila Desyana

 

Jejak Dulmatin

 

d from <http://tempointeraktif.com/khusus/selusur/teroris/page06.php>

No comments: